Belajar Membaca dari Lumut
Tips ini didapatkan dalam runtutan cerita yg saling berhubungan berikut ini:
Sore itu (28 Sept 2021), di kantor saya iseng mencari-cari tau soal kampus untuk melanjutkan kuliah. UI terdengar sangat menarik dengan segala ‘kayaknya..’ yg waktu itu terlintas di kepala. Sore itu berlanjut dengan bincang-bincang bersama Akbar, kawan seangkatan, soal rencana kuliah. Soal opsi Perbanas yg lebih masuk akal ketimbang UI.
Malamnya saya mengirim pesan ke Kanda Bowas, senior stapala yang pernah melanjutkan kuliah di UI. Menanyakan bagaimana dan mengapa UI. Apabila di ‘sum up’: kalau mau belajar, masuklah UI, kalau mau ijazah sila masuk yg lain. Setelah itu Kak Bow mengirim video motivasi berjudul Be a Student, Not a Follower yang, meskipun saya tidak terlalu suka menonton video motivasi, akhirnya saya tonton sampai habis.
Dari hasil mendengarkan video ceramah itu saya akhirnya sadar bahwa selama ini saya sebenarnya tidak pernah, atau jarang sekali memiliki keinginan untuk belajar. Membaca buku sebelum ujian? Mendengarkan dosen berbicara? Itu hanyalah upaya supaya lulus sekolah, tidak lebih. Mungkin satu-satunya hal yg didasari keinginan belajar adalah saat saya mencoba membuat api, atau orienteering, atau tutorial-tutorial photoshop, hal hal yang tidak berhubungan dengan akademik dan mungkin beberapa diantaranya sudah tidak saya pelajari lagi. Kesadaran lainnya adalah bahwa saya cepat merasa ‘sok tau’ dan ‘sok bisa’ atas apa apa yg pernah saya pelajari, yang membuat saya berhenti begitu cepat.
Kesadaran-kesadaran itu membuat saya berpikir ulang, apakah benar saya ingin belajar? di UI? atau apakah sebenarnya saya hanya ingin ijazah? dan prestisenya?
Sepertinya lebih ke yang terakhir.
Karena orang-orang yang punya keingintahuan dan belajar akan sesuatu, setidak-tidaknya membaca buku. Setidaknya begitu yg saya simpulkan dari menonton video barusan. Dan, saya bukan orang yang seperti itu, bahkan kebalikannya.
Lalu kesadaran bahwa saya lebih menginginkan ijazah dan bahwa saya sebenarnya tidak pernah memiliki keinginan belajar, membikin krisis eksistensial dalam diri. Bahwa saya menginginkan memiliki keinginan untuk belajar.
Dan dari keinginan untuk memiliki keinginan belajar itu, akhirnya saya bercerita dan bertanya pada Lumut, tentang bagaimana sih caranya baca buku?
Lalu Lumut memberitahukan beberapa hal yang sangat berharga, tentang cara membaca buku, yang apabila dirangkum menjadi sebagai berikut:
1. Mulai dari topik yg disuka, dari buku yg ingin dibaca, apapun. Jangan memaksakan membaca buku yg menurut kita bakal ‘bermanfaat’ untuk kita. Baca yg pengen dibaca aja.
2. Menurut studi, membaca dua buku dalam periode yg bersamaan lebih mudah daripada baca satu buku aja. (Dalam pengalamanku, ini memberikan semacam opsi apabila terjadi kejenuhan yang secara psikologis membuat lebih nyaman/?)
3. Ngga usah baca berulang-ulang seolah-olah mau diujikan, seolah akan ada orang yang bakal mengetes pengetahuan kita setelah membaca buku itu, seolah kita perlu menghapal semua isinya, ngga usah. Cukup baca aja sekali. Ngga usah terlalu berusaha keras untuk memahami kata perkata, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf. Kita bakal tau isi bukunya kalau udah beres baca keseluruhan buku, bukan karena memahami kata per kata. Baca, ngga usah dipikir. (Tips ini yang paling mengubah cara saya membaca buku. Yang akhirnya membuat saya nyaman dan tidak tersiksa ketika membaca buku.)
4. Bacanya sambil ditunjuk (ini teknis sih). Alasannya supaya mata kita lebih mudah untuk fokus atau simpelnya inget udah baca sampe mana.
5. Baca buku supaya bisa cerita ke orang lain, karena rasanya menyenangkan.
Setelah mengetahui hal-hal tersebut, setidaknya saya mempraktikkan empat dari lima (kecuali yang no.4) dan akhirnya bisa membaca buku.
Kalau kalian kira saya menulis semua ini pada saat yang sama saat saya sedang berapi-api karena habis menonton video motivasi, atau pada hari yang sama saat saya berdiskusi dengan Kanda Bowas dan Lumut, kalian kurang beruntung.
Tulisan ini saya tulis tanggal 30 Oktober 2021, sebulan setelah itu semua, sebulan setelah saya akhirnya langsung membeli dua buku untuk dibaca, setelah saya menuntaskan membaca dua buku berhalaman 250an yang setiap ke Gramedia rasanya selalu ingin saya beli tapi takut akan sia-sia karena tidak dibaca, setelah saya membeli lagi buku 350an halaman untuk melanjutkan membaca.
Terimakasih Lumut telah mengajari saya caranya membaca buku.