Menjawab Sisa Keresahan


Kiranya
Diam dan mengamati adalah yang baik
Karena selalu saja
Lebih banyak yang tidak kita mengerti
Daripada yang kita mengerti
Dan pura pura kita mengerti

Begitulah potongan kata kata dari sajak yang pernah saya tulis pada Desember 2017. “ … selalu saja lebih banyak yang tidak kita mengerti daripada yang kita mengerti dan pura pura kita mengerti”. Terhadap perkara itu saya mencoba mencari jawaban atau lebih tepatnya mencari cara untuk menyikapinya dengan bijak. Diam dan mengamati, serta terus mencari tau dengan cara-cara yang baik mungkin adalah jawaban paling tepat yang ada dalam pikiranku saat itu. Namun ternyata cara itu terus menyisakan keresahan, karena sekali lagi: sebanyak apapun kita telah mencari tau, akan tetap lebih banyak yang tidak kita mengerti. Setelah dipikir-pikir, nampaknya hal ini selaras dengan sebuah pepatah lama: semakin kamu tau, semakin kamu tau bahwa kamu tidak tau atau the more you know, the more you know you dont know. Namun, bukan berarti mengamati dan mencari tau adalah suatu hal yang sia sia, engga sama sekali.

Pada April 2020, dalam video youtube yang begitu saja muncul di beranda, ada hal menarik yang nampaknya bisa menjadi jawaban yang lebih tepat atas perkara ‘lebih banyak yang tidak kita mengerti’. Kalimat singkat itu disampaikan oleh Sabrang alias Noe vokalis Letto yang mungkin juga itu yang menjadi alasan saya akhirnya mengklik dan menonton video itu pada mulanya. Berikut ini adalah transkrip yang saya buat dengan sebisa mungkin tidak mengurangi maknanya (14:05 – 16:18):

Jadi kalau orang ngga punya bekal agama itu sebenernya rawan kehilangan makna (hidup) ya kalau dia ngga punya kemandirian?
Pemahaman saya terhadap fungsi utama agama, premis utamanya adalah iman, letak iman di mana sih? … Manusia itu, dia punya yang namanya lingkar pengetahuan dia, tidak mungkin satu orang tau semuanya, dia hanya punya lingkar pengetahuan dia dan di luar lingkar itu dia pasti tidak tau. Ketika dia tidak tau, dia kalau tidak punya pegangan, ada dua kemungkinannya: dia putus asa pada ketidaktahuannya atau dia hanya menjadi katak dalam tempurung yang tidak akan berkembang. … Posisi iman dalam pemahaman saya itu adalah rentang dimana kita, sesuatu yang kita tidak tau itu kita harus pegangan sama iman. Ketika dikawinkan dengan konsep lain bahwa dalam manusia itu lebih banyak ngga taunya daripada taunya berarti iman itu harus lebih dominan daripada yang lain, karena kita lebih banyak ngga taunya nih. Betapa pentingnya yang namanya iman, tanpa itu kita ngga punya pegangan ketika masuk ke sesuatu yang kita sama sekali ngga tau. Dan satu lagi komponen: padahal satu detik berikutnya aja kita ngga tau lho akan terjadi apa. Jadi sebenernya kita ini melewati ketidaktahuan demi ketidaktahuan. Dalam ketidaktahuan itu pegangan itu apa? Iman. Bukan pada bener salah, pada baik buruk, dst. tapi iman pada Gusti Allah ridho. … karena no other choice.

Kalimat singkat itu seolah melengkapi bagian rumpang tentang cara menyikapi hidup yang penuh dengan hal-hal yang tidak kita ketahui dan tidak kita mengerti, yang dalam sebagian besar kesempatan, ketidaktahuan itu menimbulkan keresahan yang mendalam. Diam, mengamati, mencari tau, dan ‘iman’ nampaknya cukup untuk menjadi sebuah jawaban. Saya sama sekali bukan orang soleh, namun dalam taraf pemahaman saya, saya dapat menyakini bahwa iman (sesuai pemahaman saya) bisa menjadi solusi untuk mengobati keresahan yang timbul setelah proses mengamati dan mencari tau dilalui. Mempercayai bahwa segala sesuatu dalam kehidupan telah ada yang mengatur, percaya bahwa setiap langkah ada yang menuntun. Percaya bahwa cukup dengan melakukan apa apa yang bisa kita lakukan dan kendalikan, maka sisa sisa keresahan yang ada akan diselesaikan oleh-Nya.

Gambir, 16 Mei 2020