Granggang

“Nek Jepang ki le ngejajah telu setengah taun. Nek Londo telungatus seket taun.” Begitulah Mbah Amat memulai cerita singkatnya kemarin malam. Cerita-cerita setelah ini akan diterjemahkan dari Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia agar lebih mudah untuk dipahami.

Mbah Amat bercerita, dulu ia ikut “kerja bakti” saat pendudukan Jepang. Waktu itu ia masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar (yang dulu bernama Sekolah Rakyat – Bopkri), saat ia pada akhirnya harus ikut mencangkuli tanah untuk membuat sungai. “Dulu sebelum berangkat dibekali Simbok kupat dan keringan.” Mbah Amat menceritakan kebiasaannya sebelum berjalan sejauh berkilo meter untuk turut serta kerja bakti. Dalam seminggu kerja bakti biasanya dilakukan satu kali. Hari-hari biasanya tetap dipakai untuk bersekolah. Katanya “Sebenarnya kerja baktinya paling sebentar, sekitar dua jam. Tapi perjalanannya yang berjarak delapan setengah kilo memakan waktu seharian tersendiri untuk berangkat dan pulang.”

Kedatangan Jepang, menurut penuturannya, membuat keadaan menjadi serba bingung. Bapak Mbah Amat sudah meninggal karena sakit sebelum Jepang datang ke tahan ini, menjadikan Simboknya seorang janda. Simboknya, yang dulu saat masih pendudukan Belanda bisa bertani dengan tentram dan berkecukupan, harus beralih menjadi penjual garam. Tentu saja menjadi penjual garam tidak pernah lebih baik dari pada menjadi petani pada waktu itu. Simboknya perlu mengambil garam dari penjual di daerah dekat pantai lalu berjalan sejauh dua belas kilo menyusuri rel kereta untuk dapat berjualan di Pasar Wates. Pergi pagi pulang petang, kurang lebih seperti itu gambaran Simbok dari Mbah Amat ketika berjualan garam. Dan menyusuri rel kereta adalah bukan tanpa alasan, selain karena jalan-jalan raya diblokir (agar Belanda tidak bisa lewat) dengan pohon-pohon pinggir jalan yang ditebangi oleh Jepang, hal ini juga karena saat pendudukan Jepang kereta tak lagi dioperasikan.

Pendudukan Jepang hanya selama tiga setengah tahun, tapi sama sekali berbeda dengan masa pendudukan Belanda yang tentram. Menurut penuturannya, kaum bapak-bapak dan para bujangan banyak yang dibawa ke luar Jawa. “Dipateni” katanya. Diberi pekerjaan berat dengan jatah makan yang tidak banyak. Menurut pemahaman Mbah Amat, Jepang sengaja dan memang betujuan untuk menghabisi populasi pribumi agar tanah ini bisa ditempati orang Jepang. Mungkin memang bernasib lebih baik, tapi mereka yang tidak dibawa ke luar Jawa juga tetap perlu mengerjakan “kerja bakti” seperti yang dilakukan oleh Mbah Amat, entah itu membuat sungai, jembatan, atau mungkin menggali gua untuk tempat berlindung Jepang.

Pada kurun waktu tiga setengah tahun ini, ada beberapa kesempatan dimana Mbah Amat mendengar baku tembak antara Belanda dan Jepang. Meskipun desa tempat tinggal Mbah Amat tidak termasuk ke dalam zona pertempuran itu, tapi jaraknya yang hanya sekitar seratus meter tetap membikin suasana menakutkan. Setiap kali mendengar suara bedil, maka yang akan dilakukan adalah membungkus pakaian-pakaian untuk diletakkan di atas pohon kelapa, tujuannya supaya barang-barang itu tidak hilang. Yang biasa memanjat adalah Kang Makin, sepupu Mbah Amat yang lebih tua. Setelah menyembunyikan pakaian, Mbah Amat dan kedua adiknya akan berlari ke arah selatan/laut menjauhi suara baku tembak. Peristiwa perang antara Jepang dan Belanda ini menurut Mbah Amat bernama “Dunia Kedua”. Pada peperangan Jepang-Belanda itu Belanda kalah dan harus pulang ke negerinya, setelah itu Jepang menguasai tanah ini.

Pada tahun-tahun akhir pendudukan Jepang, menurut Mbah Amat, ada suatu kabar tentang sosok “Bung Karno” (bukan Soekarno, “Bung Karno”) yang mempunyai greget untuk melakukan perjuangan. Atas inisiasi “Bung Karno” inilah akhirnya muncul laskar-laskar di daerahnya yang juga turut bergerak untuk mengusir pendudukan Jepang memperjuangkan tanah air (dahulu belum ada “Indonesia”), ini termasuk sepupu Mbah Amat yang bernama Muji. Selain laskar, ada lagi yang disebut veteran, tentara yang tidak dibayar. Menurut ceritanya, para “relawan” ini bergerak melawan Jepang dengan berbekal granggang, bambu yang ujungnya dilancipkan atau biasa kita sebut bambu runcing. Menurut ceritanya, atas perlawanan rakyat dengan berbekal granggang tersebut Jepang kalah dan akhirnya pulang ke negerinya. Setelah itu “Bung Karno” memproklamirkan kemerdekaan Indonesia yang mana kabar tersebut Mbah Amat ketahui dari obrolan berantai orang-orang tua. Setelah Jepang pergi, kehidupan kembali tentram. Mbah Amat, kakekku, yang tidak melanjutkan ke jenjang sekolah menengah (skarkel), melanjutkan kehidupan dengan bertani padi dan palawija.

– 16 Agustus 2020 –

Berdasarkan cerita Mbah Amat:
15 Agustus 2020 Malam dan 16 Agustus 2020 Sore